Usai sudah perjalanan saya di Sancang Timur, saatnya move on ke Papandayan. Kembali melewati jalur naga dan kali ini masing-masing sudah menggenggam kantong plastik hitam buat jaga-jaga kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sinyal handphone mulai labil manakala kami memasuki wilayah basecamp di Papandayan. Sekitar pukul 14.00 WIB kami tiba dan kami disambut dengan kabut tebal, oke fine, kami yang terbiasa dengan hawa panas Sancang Timur mulai menarik resleting jaket masing-masing dan memakai sarung tangan. Belum lagi adegan asap yang keluar tiap kali bicara. *berasa kayak lagi maen pilem korea heu* ![]()
Jika sebelumnya di Sancang Timur kami menempati rumah penduduk yang permanen dengan fasilitas yang ‘wah’, kali ini di Papandayan kami menempati bilik kayu yang dijadikan warung oleh penduduk untuk berjualan.
Saya melihat muka-muka tengil bertebaran, mentang-mentang teman-teman 1B sudah turun gunung, mereka berasa menganggap remeh kami yang baru datang dari Sancang Timur gitu. Si Kiting aja sampai bilang ke saya, “Roman-romannya elu enggak akan kuat nih, Mo.”. Dalam hati, “Cembener aje lau, Ting, selamat masuk oven ye di Sancang Timur.” hkekeke… ![]()
Malam pertama hingga malam terakhir di Papandayan, saya menggunakan dua sleeping bag, yang satu punya saya sendiri dan satunya punya Dimas yang dia berikan sebelum dia berangkat ke Sancang Timur. Meskipun dingin, tapi saya selalu berhasil tidur nyenyak dan mimpi indah selama di Papandayan. Hawa dingin akan semakin terasa manakala langit cerah lengkap dengan taburan bintang. Hawa ‘agak’ hangat akan ‘sedikit’ terasa manakala kabut menyelimuti. ![]()
Banyak hal yang membuat saya jatuh cinta dengan Papandayan. Mulai dari olahraga pagi, jalur pendakian untuk sampai di lokasi anveg, hawa adem hingga keterbatasan sinyal yang ada. Nah lho?
Jika sebelumnya di Sancang Timur, kami ditemani Pak Agus Hikmat selaku dosen pembimbing dan Kak Ida sebagai asisten lapang, maka di Papandayan kami ditemani Pak Dadan Mulyana selaku dosen pembimbing dan Kak Gina sebagai asisten lapang.
Jika sebelumnya di Sancang Timur kami selalu berada di lapang sekitar pukul 07.30-14.00 WIB, maka ketika di Papandayan kami baru berangkat ke lapang sekitar pukul 09.00 WIB dan pulang pukul 19.00 WIB. Lama ya? Sebab, tiap pukul 06.00 WIB, kami wajib mengikuti olahraga pagi yang diadakan Pak Dadan, yang enggak lulus olahraga pagi dilarang ikut jalur pendakian anveg hari itu. Olahraga pagi bukan sekedar pemanasan, tapi wajib jogging dari basecamp sampai gerbang ‘selamat datang’ Papandayan. Hahem. Sesampainya di gerbang, baru deh pendinginan, sedikit kultum dan kembali ke jalan tanjakan arah basecamp. Selain peraturan lulus olahraga pagi ini, kami juga dilarang berjalan mendahului Pak Dadan, karena Pak Dadan yang akan menyeimbangkan ritme perjalanan agar tidak terlalu cepat atau lambat.
Hari pertama ke lapang, kami melakukan pengamatan pada ekosistem Hutan Pegunungan Bawah dan Hutan Tanaman milik Perhutani setempat. Hukumnya wajib ekstra hati-hati saat membuat plot di hutan tanaman, sebab hutan ini menggunakan sistem tumpang sari dengan tembakau dan sayuran seperti kol milik warga setempat.
Hari kedua ke lapang, bisa dibilang menjadi hari yang istimewa sebab kami mendaki hingga puncak. Dari semua jalur P2EH yang ada, boleh berbanggalah ya, sebab hanya di Papandayan kami diajak mendaki sampai puncak dan melihat indahnya hamparan edelweis dan ki bool.
Hari ketiga, oke saya benci hari ini. Haha, karena banyak jalan turunan yang harus saya lewati.
Jalur pegunungan tengah yang dipilih Pak Dadan itu lho, sesuatu banget. Jalur yang biasanya hanya dilalui tim sars. Meski benci, tapi saya suka. Nahlho? Selain mendaki gunung, lewati lembah dan sungai, di jalur inilah saya melihat secara langsung elang yang terbang di atas kita dan mengibarkan sayapnya begitu besar. Awesome! *ini saya lagi naik gunung apa nonton film indosiar ya?
Bahkan di hari terakhir, saya menyempatkan naik lagi meski hari terakhir adalah saatnya packing. Ngapain, mo? Ngejar sunrise heu. Hasilnya?
Hasilnya, enggak sia-sia saya memaksakan diri keluar habis subuhan, ditengah dinginnya udara pagi hari Papandayan. Sayangnya, matahari pagi itu tertutup oleh awan, sehingga hanya nampak semburat jingga.
Chemistry Antara Kita
Hal yang terbersit di benak saya saat pengumuman pembagian kelompok P2EH adalah pasti akan membosankan. Haha, negatif banget ya? Ya, gimana lagi, deretan nama yang ada diantara nama saya itu enggak ada yang saya kenal kecuali nama Asep Kurniawan. Ya iyalah, si Asep khan teman se-departemen saya. Bahkan, masih lekat di bayangan saya, hari terakhir pengecekan perlengkapan saat masih di kampus, mungkin kelompok saya adalah yang paling garing se-Indonesia Raya Merdeka. Fufu.
Tapi eh tapi, seiring dengan berjalannya momen yang ada. Seiring dengan semakin banyaknya pohon yang harus dihitung. Seiring dengan semakin banyaknya ucapan, “Semangat, semangat.. ayo semangat.” di lapang. Semuanya membuat saya memiliki kedekatan dengan mereka hingga saat ini.
Atas, Kiri-Kanan : Intan, Mbak Isa, saya, Dede, Anggit, Deska
Bawah, Kiri-Kanan : Yudha, Bang Jos, Agung, Asep
Kelompok saya terdiri dari Yudha (THH) sebagai ketua kelompok. Dia ini paling sering dijadikan objek cengcengan. Bullying. Bahkan kadang, meski yang berkumpul hanya saya, Dede, Intan, Deska, Anggit dan Mbak Isa, tetep aja yang jadi bahan obrolan adalah Yudha. Kasian.
oke, lupakan Yudha. Ada juga si Anggit (KSHE), dia ini adalah sasaran saya yang kedua, saya sering ceng-cengin dia dengan Agung (KSHE). Anggit megang kepala, “Cie mikirin Agung.”, Anggit mau tidur, “Cie mau mimpiin Agung.”, Anggit pegang golok mau jadi perintis, “Cie biar samaan sama Agung.”, sampai semua orang ngiranya memang ada cinta lokasi antara Anggit dan Agung. Oke, kali ini saya memang tengil. Hahahaaa ![]()
Lain Anggit, lain Agung, kalau Anggit dicengin pasti dia ngamuk. Kalau Agung yang dicengin, dia damai tapi ngebales dengan satu kata yang bikin saya diem cep cep, “Sarpedon!”. Haha. Agung ini oke banget deh pokoknya, soalnya dia temen duet buat nyanyi yang jago maen gitar sekaligus temen foto narsis alala yeyeye kalau lagi jeprat jepret.
Foto bareng Agung itu, berasa foto kayak model profesional. Gampang diaturnya dan ketika dia pose, pas banget sama yang kita pengin. Kalau kata Agung tiap kali mau difoto sih, “Ganteng mah ganteng aja, Mo. Enggak perlu pose pas ada kamera ngadep ke kita.”. Oke, saya muntah dibagian itu. Dasar bocah tengil.
Sepanjang jalan kalau lagi di lapang, pasti theme song-nya Pemuja Rahasia Sheila On 7, spesial performance, buat Anggit. Hahaa. Selain Agung, partner nyanyi dan foto-foto selanjutnya adalah Dede, oke nama dia Risty. Tapi dia enggak mau dipanggil Risty, maunya dipanggil Dede. *bingung*
Ketika Dede nyanyi maka 99% lagu yang keluar adalah lagu milik David Archuleta, sementara 1%-nya merupakan lagu india. Dede juga hebring banget kalau masalah foto-foto, dia suka tiba-tiba ngarahin kamera ke wajahnya sendiri dan jepret, kamera handphone saya penuh muka dia. ![]()
Satu orang yang selalu setia megangin tangan saya tiap kali jalan turunan menghadang, tidak lain tidak bukan adalah Mbak Isa. Oke, nama dia Amalia Choirunnisa. Kami sekelompok sepakat memanggil dia Mbak Isa. *tanpa alasan yg jelas*
Mbak Isa ini jagoan banget deh. Dia sering menjadi perintis (membuka jalan) kelompok kami bersama Agung. Dia ini orang yang paling sabar buat ngajarin saya jalan ala kepiting tiap kali melewati tebing yang hanya bisa dilewati satu kaki. Dia ini tidak pernah melepaskan tangan saya, kecuali saya sudah bisa menapak jalan yang datar dan kembali melompat-lompat. Haha. Have a bunch of thankyou, mbak Isa.
*terharu tingkat kabupaten*
At last but not least, melalui perjalanan singkat 11 hari ini, dengan momen P2EH ini, saya semakin membuktikan kalimat yang sering saya ucapkan ke orang-orang, “Kualitas kedekatan seseorang itu bukan karena waktu tapi karena momen.”.
Makasih buat Pak Dadan yang sudah menularkan ilmu penyelarasan alam kepada kami. Bahwa dalam hidup bukan hanya perlu berpikir positif, namun juga perasaan yang positif. Bahwa ketika kita berpikir dan berperasaan positif, maka alam pun akan menyalurkan energi positif sehingga kita mampu menjalani kehidupan lebih baik.
Puncak Papandayan yang membuat saya melihat begitu Maha Besarnya Allah. Betapa mudahnya bagi Allah untuk menciptakan sesuatu. Tinggal cring.
Sesungguhnya, urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata, “Jadilah!”, maka jadilah sesuatu itu. (QS. Yasin : 82)
Hahahahahahaha…
Koplak, tapi ngangenin dah…
hahaha si agungnya nongol.
cie kangen anggit ya? :p